Senin, 08 Januari 2018

Polusi Jaringan



Yooo...!!
Halo saudara saudari, sobat ku semua.. apa kabarnya nih? ;)
yah semoga baik-baik saja yaa..

Kali ini aku ingin berbagi sedikit ilmu yang ku dapat tadi malam. Aku seperti mendapatkan sebuah ilham sehingga otak kolot ku terbuka lagi, dan semoga sobat juga pikiran dan hatinya selalu terbuka untuk ku yaa..  :* ;)
*PLAKK

          Terinspirasi dengan sebuah film dokumenter yang berjudul "DI BALIK FREKUENSI" yang ku tonton semalam, tentunya teman sudah tak asing lagi dengan yang namanya MEDIA kan? Media yang terbagi jadi media cetak, elektronik, online dan sejenis sanak saudaranya.

          Batin saya sempat tergugah ketika mengikuti alur film dokumenter itu. Ketika film usai, terjadilah diskusi hangat antar teman nobar (nonton bareng) ku.
Dari sana pemikiran ku yang hampir pupus karena urusan kampus, kembali diruncingkan lagi oleh permasalahan masa kini.

          “Media itu untuk apa?” Tanya salah satu audiens yang ikut menyantap tontonan yang sama. Pola pikir ku pun seketika terketuk, diingatkan kembali dengan puzzle-puzzle kehidupan yang sudah ku alami beberapa bulan terakhir.

          Amati saja sobat, media yang sekarang ini lebih berpihak kepada orang-orang berDUIT. Partai-partai, ormas, dan kelompok menengah keatas, lebih mereka kedepankan dibandingkan kepentingan publik.

          Hampir semua media sekarang tak bisa dipercaya, bisa saja semuanya. Sebab faktanya tidak ada lagi yang namanya netral, semua serba memihak pada tetua mereka yang berkuasa.

          Demokrasi, Netral, Adil, hanya slogan semata yang terpampang tanpa ada artinya. Sobat boleh percaya atau tidak, nyatanya kini makna sebenarnya itu tinggal kenangan. (aseeeekkk.....!!!)

          Rakyat kita lugu, dibuktikan dari kurangnya literasi di Indonesia. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang minat membaca.

          Dengan kurangnya literasi, pemikiran rakyat jadi tumpul dan polos sepolos kain kafan, Innalillahi. Mereka jadi mudah percaya dan menelan bulat-bulat informasi yang mereka dapat, tanpa adanya Tabayyun.

          Ketahuilah sobat, era kita sekarang ini sedang terjadi perang. Perang yang lebih mematikan dan dangerousyang melebihi perang berdarah, yaitu perang pemikiran dengan nama keren Ghazwul Fikri.

          Di buku yang saya baca “Islam gak Liberal” karya Zaky Ahmad Rivai, bahwa media sekarang itu merupakan sesuatu yang harus dikuasai. Melalui media yang dikuasai, seorang bisa dengan mudahnya membentuk mindset kepada publik sehigga mereka lebih mudah dikendalikan.

          Jadi, karena media kita sekarang lebih banyak hoax dan propaganda politik, media itu pun berhasil mengelabui banyak sekali generasi penerus bangsa. Mudanya digiring seperti domba kemana saja media itu mau.

          Dengan literasi, sebenarnya itu bisa membangkitkan gairah terpendam dalam setiap individu yaitu berpikir kritis. Tanpa itu semua kita hanyalah seperti budak yang mau disuruh-suruh, apatis dan bahlul.

          Generasi Jaman Nowdilalaikan dengan gadget mereka. Karena kehidupan yang serba praktis, membuat generasi sekarangmalas berpikir.

          Pernah kah sobat mendengar beberapa takhayul dari orang tua dulu? Seperti bangun siang rejeki dipatok ayam, duduk di depan pintu blablabla, duduk diatas bantal blablabla, potong kuku malam blablabla? Pernah kah sobat heran dan protes?

          Kata-kata orang tua jaman dulu memang tak masuk akal kan? Memang benar. Mereka sengaja membuat itu untuk mengajarkan kita untuk tidak langsung percaya. Kita diberi sebuah clueuntuk memecahkan apa maksudnya, dan kita dibuat berfikir.

          Tak seperti sekarang yang hanya bermodal kata-kata mutiara tentang cinta. Apa itu cinta? Makan tuh cinta. Pemuda yang harusnya mencari jati diri dimasa mudanya, malah disibukkan dengan pencarian cintanya, siap nikah saja belum. :p

          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar