Yooo...!!
Halo saudara saudari, sobat ku semua.. apa kabarnya nih? ;)
Halo saudara saudari, sobat ku semua.. apa kabarnya nih? ;)
yah semoga baik-baik saja yaa..
Kali ini aku ingin berbagi sedikit ilmu yang ku dapat tadi malam. Aku
seperti mendapatkan sebuah ilham sehingga otak kolot ku terbuka lagi, dan
semoga sobat juga pikiran dan hatinya selalu terbuka untuk ku yaa.. :* ;)
*PLAKK
Terinspirasi dengan sebuah
film dokumenter yang berjudul "DI BALIK FREKUENSI" yang ku tonton
semalam, tentunya teman sudah tak asing lagi dengan yang namanya MEDIA kan? Media
yang terbagi jadi media cetak, elektronik, online dan sejenis sanak saudaranya.
Batin saya sempat
tergugah ketika mengikuti alur film dokumenter itu. Ketika film usai,
terjadilah diskusi hangat antar teman nobar
(nonton bareng) ku.
Dari sana pemikiran ku yang hampir pupus karena urusan kampus, kembali
diruncingkan lagi oleh permasalahan masa kini.
“Media itu untuk apa?” Tanya
salah satu audiens yang ikut
menyantap tontonan yang sama. Pola pikir ku pun seketika terketuk, diingatkan kembali
dengan puzzle-puzzle kehidupan yang
sudah ku alami beberapa bulan terakhir.
Amati saja sobat, media yang
sekarang ini lebih berpihak kepada orang-orang berDUIT. Partai-partai, ormas,
dan kelompok menengah keatas, lebih mereka kedepankan dibandingkan kepentingan
publik.
Hampir semua media sekarang
tak bisa dipercaya, bisa saja semuanya. Sebab faktanya tidak ada lagi yang
namanya netral, semua serba memihak pada tetua mereka yang berkuasa.
Demokrasi, Netral, Adil,
hanya slogan semata yang terpampang tanpa ada artinya. Sobat boleh percaya atau
tidak, nyatanya kini makna sebenarnya itu tinggal kenangan. (aseeeekkk.....!!!)
Rakyat kita lugu, dibuktikan
dari kurangnya literasi di Indonesia. Berdasarkan
survey yang dilakukan oleh Central
Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia berada pada
peringkat ke-60 dari 61 negara yang minat membaca.
Dengan
kurangnya literasi, pemikiran rakyat jadi tumpul dan polos sepolos kain kafan, Innalillahi. Mereka jadi mudah percaya
dan menelan bulat-bulat informasi yang mereka dapat, tanpa adanya Tabayyun.
Ketahuilah
sobat, era kita sekarang ini sedang terjadi perang. Perang yang lebih mematikan
dan dangerousyang melebihi perang
berdarah, yaitu perang pemikiran
dengan nama keren Ghazwul Fikri.
Di
buku yang saya baca “Islam gak Liberal” karya Zaky Ahmad Rivai, bahwa media
sekarang itu merupakan sesuatu yang harus dikuasai. Melalui media yang
dikuasai, seorang bisa dengan mudahnya membentuk mindset kepada publik sehigga mereka lebih mudah dikendalikan.
Jadi,
karena media kita sekarang lebih banyak hoax dan propaganda politik, media itu
pun berhasil mengelabui banyak sekali generasi penerus bangsa. Mudanya digiring
seperti domba kemana saja media itu mau.
Dengan
literasi, sebenarnya itu bisa membangkitkan gairah terpendam dalam setiap
individu yaitu berpikir kritis. Tanpa itu semua kita hanyalah seperti budak
yang mau disuruh-suruh, apatis dan bahlul.
Generasi
Jaman Nowdilalaikan dengan gadget mereka. Karena kehidupan yang
serba praktis, membuat generasi sekarangmalas berpikir.
Pernah
kah sobat mendengar beberapa takhayul dari orang tua dulu? Seperti bangun siang
rejeki dipatok ayam, duduk di depan pintu blablabla,
duduk diatas bantal blablabla, potong
kuku malam blablabla? Pernah kah
sobat heran dan protes?
Kata-kata
orang tua jaman dulu memang tak masuk akal kan? Memang benar. Mereka sengaja
membuat itu untuk mengajarkan kita untuk tidak langsung percaya. Kita diberi
sebuah clueuntuk memecahkan apa
maksudnya, dan kita dibuat berfikir.
Tak
seperti sekarang yang hanya bermodal kata-kata mutiara tentang cinta. Apa itu
cinta? Makan tuh cinta. Pemuda yang
harusnya mencari jati diri dimasa mudanya, malah disibukkan dengan pencarian
cintanya, siap nikah saja belum. :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar