Senin, 08 Januari 2018

Hujan VS Banjir


                Hujan merupakan rahmat Tuhan yang tiada duanya setelah kehidupan. Bagi umat beragama maupun yang atheis, menganggap hujan amat bermakna bagi hidupnya setelah mereka ditinggal mantan.
                Oke sobat.. Kali ini daku (aku/saya) akan mengajak sobat menyelami sedikit tetesan nilai kehidupan, tepatnya menyelami makna sebuah unsur yang amat dibutuhkan di dunia kita yang fana ini. Sebelum membaca, diharapkan menjaga jarak dan pencahayaan yang cukup ya sobat !
Peringatan!!! : membaca terlalu dekat dapat mengakibatkan pegal-linu, mata berair, berkunang-kunang, berbagai jenis rabun, mual, kanker, dan gangguan mata lainnya.

                Seperti kalimat yang pertama kali sobat baca diatas, hujan merupakan suatu unsur yang amat bermanfaat bagi manusia dan sejenisnya. Hujan terdiri dari tetesan-tetesan hidrogen cair yang membentuk rintik-rintik yang jatuh ke bumi.

                Dibalik manfaatnya yang fenomenal dan dipuja-puja bak dewa, tak dapat dipungkiri masih banyak orang yang mengidentikkan hujan dengan banjir. Terutama yang di perkotaan, yang sudah kumuh dengan selokan mereka yang mampat dan tersumbat diiringi tarian lalat-lalat dan mungkin berulat-ulat.

                Daku saja sudah bosan mendengar rengekan manusia itu. Mereka selalu mengadu kepada pemerintah tentang banjir ini banjir itu, selokan yang ini yang itu, sungai ini itu, tanggul yang itu, bendungan yang sana itu, dan masih banyak lagi ini itu.

                Tanpa mereka sadari, sebenarnya merekalah yang berulah. Mengenai sampah yang dibuang sembarangan, hingga bertumpuk-tumpuk  yang mereka abaikan. Lahirlah banjir.

                Hanyak segelintir orang yang peduli, manusia seperti mereka tak bisa mengelak lagi sobat. Jika banyak yang cinta bersih, buktinya kenapa masih banyak sampah yang menggunungi pinggir jalan hingga memulau di perairan? Ya, sobat.. mari kita selami lagi banjir dosa ini.

                Hujan bagi daerah kekeringan adalah merupakan anugerah terindah yang pernah (ku miliki) ada. Tapi, kenapa di Indonesia banyak yang memandang sebelah mata? Apa mata mereka kelilipan? Ataukah sengaja mengedipkan satu mata agar doi peka? Jawabannya ada di ujung langit, sobat.
(lu kire Dragon Ball ?!)

                Pada hakikatnya keluh kesah yang terjadi hingga sumpah serapah yang mereka caci, adalah hasil ketidakpuasan mereka sendiri terhadap limpahan rejeki. Sesungguhnya manusia tidak pernah puas, limpahan saja mereka maki.

                Ketika bencana terjadi, masyarakat mencaci pemerintah. Ya benar juga pemerintah yang salah, kenapa rakyat tidak diajarkan sekolah mengenai moral lingkungan dan tata cara mengelolanya?? Nah itu tau.

                Kurikulim saat ini saja, hanya mendorong masyarakat untuk berebut kerja tanpa peduli secuil apa lapangan pekerjaannya. Nilai yang dinomor-satu-kan, tanpa peduli moral.

                Ujian buat apa? Hanya membuang-buang kertas dan menghabiskan puluhan hektar hutan saja, kertasnya pun menumpuk dan kemudian dibuang jadi sampah. Biasanya lembar kertas dengan nilai yang jelek saja disobek lalu dibuang oleh para pelajar karena takut ketahuan orang tuanya.

                Banyak mahasiswa yang mencontek temannya yang pintar karena ingin nilai tinggi, sebenarnya apa yang mereka lakukan itu benar. Benar bahwa guru hanya menilai perjuangan seorang siswa dari hasil akhirnya saja.

                Bagaimana dengan siswa yang sudah berupaya sekolah bertahun-tahun selalu hadir ke sekolah, rajin mengerjakan PR, tidak sombong, dan suka menabung, lalu belajar kebut semalam bersusah payah? Dan ketika salah satu nilai ujian mereka anjlok, langsung tidak naik kelas atau lulus sekolah. Sia-sia ya..

                Ada yang bunuh diri karena frustasi, putus asa, dan sakit jiwa karena nilai. Ternyata sebuah nilai begitu berarti bagi calon generasi bangsa ya, sobat.

                “Kurikulum di negeri ini harus di rombak”, betul kata pak Jokowi di koran tahun lalu. Kurikulum kita terlalu greget untuk orang indonesia yang maenstream. Sistemnya yang kaku dalam penilaian, membuat gugur para manusia lugu.

                Ya begitulah nilai moral sobat, biasanya kita sebut Norma dalam bermasyarakat.Termasuk sebagai manusia sendiri, hidup kita selalu terpengaruh oleh penilaian orang lain.

                Hujan juga begitu, sudah banyak orang yang salah menilai. Ada yang menyalahkan hujan ketika dia sedang menjemur pakaian, ada juga yang menyalahkan hujan karena dia ingin jalan sama gebetan di malam mingguan. Dasar tidak tau diri !

                Dapat disimpulkan bahwa hampir semua manusia mulai menyamakan hujan dengan banjir yang jelas bencana yang mereka buat sendiri, tanpa mereka pikirkan apa sebab muncul datangnya.


                Yeah sekian tulisan saya yang kurang bermutu ini sobat, semoga pikiran sobat sedikit tergelitik dengan tulisan saya yang masih semerawut berantakan ini. Jangan salahkan hujan ya.. syukurilah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar