Hujan
merupakan rahmat Tuhan yang tiada duanya setelah kehidupan. Bagi umat beragama
maupun yang atheis, menganggap hujan amat bermakna bagi hidupnya setelah mereka
ditinggal mantan.
Oke
sobat.. Kali ini daku (aku/saya) akan mengajak sobat menyelami sedikit tetesan
nilai kehidupan, tepatnya menyelami makna sebuah unsur yang amat dibutuhkan di
dunia kita yang fana ini. Sebelum membaca, diharapkan menjaga jarak dan
pencahayaan yang cukup ya sobat !
Peringatan!!! : membaca terlalu dekat dapat mengakibatkan pegal-linu, mata berair, berkunang-kunang, berbagai jenis rabun, mual, kanker, dan gangguan mata lainnya.
Peringatan!!! : membaca terlalu dekat dapat mengakibatkan pegal-linu, mata berair, berkunang-kunang, berbagai jenis rabun, mual, kanker, dan gangguan mata lainnya.
Seperti
kalimat yang pertama kali sobat baca diatas, hujan merupakan suatu unsur yang
amat bermanfaat bagi manusia dan sejenisnya. Hujan terdiri dari tetesan-tetesan
hidrogen cair yang membentuk rintik-rintik yang jatuh ke bumi.
Dibalik
manfaatnya yang fenomenal dan dipuja-puja bak dewa, tak dapat dipungkiri masih
banyak orang yang mengidentikkan hujan dengan banjir. Terutama yang di
perkotaan, yang sudah kumuh dengan selokan mereka yang mampat dan tersumbat
diiringi tarian lalat-lalat dan mungkin berulat-ulat.
Daku
saja sudah bosan mendengar rengekan manusia itu. Mereka selalu mengadu kepada
pemerintah tentang banjir ini banjir itu, selokan yang ini yang itu, sungai ini
itu, tanggul yang itu, bendungan yang sana itu, dan masih banyak lagi ini itu.
Tanpa
mereka sadari, sebenarnya merekalah yang berulah. Mengenai sampah yang dibuang
sembarangan, hingga bertumpuk-tumpuk yang mereka abaikan. Lahirlah banjir.
Hanyak
segelintir orang yang peduli, manusia seperti mereka tak bisa mengelak lagi
sobat. Jika banyak yang cinta bersih, buktinya kenapa masih banyak sampah yang
menggunungi pinggir jalan hingga memulau di perairan? Ya, sobat.. mari kita
selami lagi banjir dosa ini.
Hujan
bagi daerah kekeringan adalah merupakan anugerah
terindah yang pernah (ku miliki) ada. Tapi, kenapa di Indonesia banyak yang memandang sebelah mata? Apa mata
mereka kelilipan? Ataukah sengaja
mengedipkan satu mata agar doi peka? Jawabannya ada di ujung langit, sobat.
(lu kire Dragon Ball ?!)
(lu kire Dragon Ball ?!)
Pada
hakikatnya keluh kesah yang terjadi hingga sumpah serapah yang mereka caci,
adalah hasil ketidakpuasan mereka sendiri terhadap limpahan rejeki. Sesungguhnya
manusia tidak pernah puas, limpahan saja mereka maki.
Ketika
bencana terjadi, masyarakat mencaci pemerintah. Ya benar juga pemerintah yang
salah, kenapa rakyat tidak diajarkan sekolah mengenai moral lingkungan dan tata
cara mengelolanya?? Nah itu tau.
Kurikulim
saat ini saja, hanya mendorong masyarakat untuk berebut kerja tanpa peduli
secuil apa lapangan pekerjaannya. Nilai yang dinomor-satu-kan, tanpa peduli moral.
Ujian
buat apa? Hanya membuang-buang kertas dan menghabiskan puluhan hektar hutan
saja, kertasnya pun menumpuk dan kemudian dibuang jadi sampah. Biasanya lembar
kertas dengan nilai yang jelek saja disobek lalu dibuang oleh para pelajar karena takut
ketahuan orang tuanya.
Banyak
mahasiswa yang mencontek temannya yang pintar karena ingin nilai tinggi,
sebenarnya apa yang mereka lakukan itu benar. Benar bahwa guru hanya menilai
perjuangan seorang siswa dari hasil akhirnya saja.
Bagaimana
dengan siswa yang sudah berupaya sekolah bertahun-tahun selalu hadir ke
sekolah, rajin mengerjakan PR, tidak sombong, dan suka menabung, lalu belajar
kebut semalam bersusah payah? Dan ketika salah satu nilai ujian mereka anjlok, langsung tidak naik kelas atau
lulus sekolah. Sia-sia ya..
Ada
yang bunuh diri karena frustasi, putus asa, dan sakit jiwa karena nilai.
Ternyata sebuah nilai begitu berarti bagi calon generasi bangsa ya, sobat.
“Kurikulum
di negeri ini harus di rombak”, betul kata pak Jokowi di koran tahun lalu.
Kurikulum kita terlalu greget untuk
orang indonesia yang maenstream.
Sistemnya yang kaku dalam penilaian, membuat gugur para manusia lugu.
Ya begitulah nilai moral sobat, biasanya
kita sebut Norma dalam bermasyarakat.Termasuk sebagai manusia sendiri, hidup
kita selalu terpengaruh oleh penilaian orang lain.
Hujan
juga begitu, sudah banyak orang yang salah menilai. Ada yang menyalahkan hujan
ketika dia sedang menjemur pakaian, ada juga yang menyalahkan hujan karena dia
ingin jalan sama gebetan di malam mingguan. Dasar tidak tau diri !
Dapat
disimpulkan bahwa hampir semua manusia mulai menyamakan hujan dengan banjir
yang jelas bencana yang mereka buat sendiri, tanpa mereka pikirkan apa sebab
muncul datangnya.
Yeah
sekian tulisan saya yang kurang bermutu ini sobat, semoga pikiran sobat sedikit
tergelitik dengan tulisan saya yang masih semerawut berantakan ini. Jangan salahkan
hujan ya.. syukurilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar