Cinta, apa sih itu cinta? Cinta itu sebuah
perpaduan rasa suka dan kasih sayang, beda tipis dengan nafsu. Kadang cinta
datang dengan sendirinya, nafsu juga begitu. Mari kita lihat makna cinta dari
sudut pandang pacaran.
Pacaran di era ini merupakan sesuatu yang
populer bagi kalangan remaja. Alih-alih disatu pihak ingin mengungkap rasa
cinta, pasangan yang dicinta justru memanfaatkan momennya untuk nafsu birahi
semata. Cinta dijadikan alasannya untuk menjalin suatu status bernama “Pacar”,
tapi kenyataannya hubungan yang dijalin hanya berdasarkan dorongan nafsunya
yang masih labil.
Tak bisa dipungkiri, banyaknya wanita hamil
diluar nikah karena pacaran. Bahkan setelah salah satu pasangan merasa sudah
terpenuhi segala birahinya, dia pun mulai bosan dan ingin meninggalkan
pasangannya. Itu kah yang dinamakan cinta dalam pacaran? Tentu tidak!
Saya pernah mendengar beberapa pengalaman
teman saya yang pacaran kandas ditengah jalan. Kenapa tidak dari pengalaman
saya? Ouh, saya tak pernah pacaran
karena saya generasi cowok yang gak peka dan hanya senang mengoleksi gebetan
sebagai buai hasrat penyemangat belaka. My soul is FREEDOM.
Kembali lagi kepada pengalaman teman saya,
saya punya beberapa teman yang sering cerita dan bisa dibilang curhat.
Menceritakan kisah hubungan asmaranya dalam hal pacaran, tentang pacarnya yang
kelakuannya begini dan begitu sampai-sampai jenuh pun tiba.
Wah, saya
menyadari ternyata pacaran ada titik jenuhnya juga. Tetapi saya sadari kalo
memang itu karena cinta, tak akan ada yang namanya kejenuhan. Kenapa saya
bilang begitu? Lihat saja cinta orang tua terhadap anaknya, anak terhadap orang
tuanya, cinta Tuhan Yang Maha Esa kepada makhluknya, dan bahkan cinta manusia
terhadap Tuhannya. Apakah orang tua bosan mencintai kita? Apakah Tuhan bosan
mencintai makhluknya? Dan sebaliknya? Tidak ada kan!
Nah, jadi
masalahnya ini adalah sebuah hubungan yang mengikat cinta itu. Kenapa cinta
harus diikat? Biarlah dia terbang bebas bak burung yang melayang di angkasa. Cinta
itu bagaikan menghitung jutaan bintang di langit, artinya buang-buang waktu
saja. Memang buang-buang waktu tetapi tak apa jika waktu terbuang untuk seorang
yang di cinta, terutama terhadap Tuhan YME dan dengan pasangan hidup kita.
Buat apa mencintai jodoh orang lain lewat
status pacaran, apakah kalian para pencari cinta berpikir demikian? Sia-sia lah
hidup mereka, setelah membuang waktunya dalam status ilegal bernama pacaran.
Lalu mendekati maksiat lewat alibi cinta itu.
Ketahuilah teman-teman jika pun cinta mu
murni, miliki dia seutuhnya lewat pernikahan atau lepaskan dia dalam kenangan.
Hanya ada 2 pilihan ! Jangan setengah-setengah mencintai seseorang. Hanya
mencintai lewat status pacaran itu bagaikan menyimpan buah mentah didalam
sebuah peti dan menunggunya hingga matang. Enak mana buah matang yang disimpan
didalam peti dibandingkan buah yang matang ranum langsung dari pohonnya?
Seperti itulah perumpamaannya pacaran.
Tak hanya kalangan remaja, bahkan anak yang
masih ingusan pun tertular virusnya. Nah, betapa ironisnya pacaran itu, apakah
masih bisa dibilang pacaran para bocah ini karena cinta? Bocah kok sudah
mengenal cinta. Ketahui lah para bocah itu hanya mengikuti Trend kekinian saja. Akibat pacaran itu juga, remaja yang baru
pubertas menyalurkan hasratnya yang menggebu-gebu terhadap pacarnya. Ironis !
Semua orang bisa mendeskripsikan apa itu
cinta lewat berbagai presepsi, tetapi bagi saya cinta itu tak bisa diungkap
dengan kata-kata. Cinta datang dan timbul dengan sendirinya? Bisa jadi ! dan
bisa jadi juga yang anda rasakan itu bukan cinta tetapi nafsu, berkacalah dan
ingat satu hal bahwa cinta dan nafsu itu beda tipis. Jika memang anda cinta
dia, miliki lah dia seutuhnya dalam hubungan halal atau tinggalkan, jangan
miliki dia hanya sebatas pacaran yang caranya memiliki itu setengah-setengah. Welcome
di Era Kids Jaman Now.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar