Senin, 08 Januari 2018

STYLE-CYCLE (Style ReCycle)



Style masa kini sungguh membuat mengelus dada. Dari yang muda hingga yang tua, semakin aneh saja tingkahnya. Laki-laki berpakaian ketat melekat hingga perempuan yang berbusana terbuka ria. Busana prianya dianggap biasa saja, tetapi untuk wanita aduhai mempesona membuat kita ingin melepaskan hasrat di dada setelah melihatnya.

Banyak pria jadi waria sampai wanita menjadi jadi layaknya pria. Kini zaman jahiliyah yang sudah diramal para utusan tuhan terjadi jua. Dimana kelakuan itu kembali ke masanya, dan mungkin manusia kini akan kembali bertelanjang dada hingga nampak paha.

Kosumsi khalayak umum jadi biasa bak nasi disuap saja, lewat mata memuaskan nafsu belaka. Apakah generasi selanjutnya akan dibutakan oleh pakaian terawang para artis masa kini? Kini nafsu selalu diberi makan, gemuklah ia.

Apalah daya daku hanya bisa meneguk liur saja, jika terlihat yang aduhai-aduhai seperti itu. Tetapi tetap ku lawan dengan iman, yang bisa memproteksi ku melampaui batasan maksiat yang hampir bisa ku jajal.

Wahai kaum hawa berhentilah menggoda iman pria, sesungguhnya pria tak usah digoda mereka justru akan tergoda jua tetapi ada masanya. Banyak wanita yang tak ingin di cumbu rayu pria, tetapi style aduhainya menistakan sifatnya. Disuruh menutup aurat banyak alasannya, nampak sekali ingin menjajakan diri.


Entah sepertinya sebentar lagi manusia akan kembali ke zaman purba, dimana mereka akan menelanjangi diri sendiri. Setelah telanjang dada lepaslah celana, bisa dilihat dari tingkah absurb mereka mengiklankan bentuk tubuhnya. Lewat mata turun ke hati, dari pakaian terbuka berbuatlah mereka zina.   

PENISTAAN CINTA BERKEDOK PACARAN



Cinta, apa sih itu cinta? Cinta itu sebuah perpaduan rasa suka dan kasih sayang, beda tipis dengan nafsu. Kadang cinta datang dengan sendirinya, nafsu juga begitu. Mari kita lihat makna cinta dari sudut pandang pacaran.

Pacaran di era ini merupakan sesuatu yang populer bagi kalangan remaja. Alih-alih disatu pihak ingin mengungkap rasa cinta, pasangan yang dicinta justru memanfaatkan momennya untuk nafsu birahi semata. Cinta dijadikan alasannya untuk menjalin suatu status bernama “Pacar”, tapi kenyataannya hubungan yang dijalin hanya berdasarkan dorongan nafsunya yang masih labil.

Tak bisa dipungkiri, banyaknya wanita hamil diluar nikah karena pacaran. Bahkan setelah salah satu pasangan merasa sudah terpenuhi segala birahinya, dia pun mulai bosan dan ingin meninggalkan pasangannya. Itu kah yang dinamakan cinta dalam pacaran? Tentu tidak!

Saya pernah mendengar beberapa pengalaman teman saya yang pacaran kandas ditengah jalan. Kenapa tidak dari pengalaman saya? Ouh, saya tak pernah pacaran karena saya generasi cowok yang gak peka dan hanya senang mengoleksi gebetan sebagai buai hasrat penyemangat belaka. My soul is FREEDOM.

Kembali lagi kepada pengalaman teman saya, saya punya beberapa teman yang sering cerita dan bisa dibilang curhat. Menceritakan kisah hubungan asmaranya dalam hal pacaran, tentang pacarnya yang kelakuannya begini dan begitu sampai-sampai jenuh pun tiba.

Wah, saya menyadari ternyata pacaran ada titik jenuhnya juga. Tetapi saya sadari kalo memang itu karena cinta, tak akan ada yang namanya kejenuhan. Kenapa saya bilang begitu? Lihat saja cinta orang tua terhadap anaknya, anak terhadap orang tuanya, cinta Tuhan Yang Maha Esa kepada makhluknya, dan bahkan cinta manusia terhadap Tuhannya. Apakah orang tua bosan mencintai kita? Apakah Tuhan bosan mencintai makhluknya? Dan sebaliknya? Tidak ada kan!

Nah, jadi masalahnya ini adalah sebuah hubungan yang mengikat cinta itu. Kenapa cinta harus diikat? Biarlah dia terbang bebas bak burung yang melayang di angkasa. Cinta itu bagaikan menghitung jutaan bintang di langit, artinya buang-buang waktu saja. Memang buang-buang waktu tetapi tak apa jika waktu terbuang untuk seorang yang di cinta, terutama terhadap Tuhan YME dan dengan pasangan hidup kita.

Buat apa mencintai jodoh orang lain lewat status pacaran, apakah kalian para pencari cinta berpikir demikian? Sia-sia lah hidup mereka, setelah membuang waktunya dalam status ilegal bernama pacaran. Lalu mendekati maksiat lewat alibi cinta itu.

Ketahuilah teman-teman jika pun cinta mu murni, miliki dia seutuhnya lewat pernikahan atau lepaskan dia dalam kenangan. Hanya ada 2 pilihan ! Jangan setengah-setengah mencintai seseorang. Hanya mencintai lewat status pacaran itu bagaikan menyimpan buah mentah didalam sebuah peti dan menunggunya hingga matang. Enak mana buah matang yang disimpan didalam peti dibandingkan buah yang matang ranum langsung dari pohonnya? Seperti itulah perumpamaannya pacaran.

Tak hanya kalangan remaja, bahkan anak yang masih ingusan pun tertular virusnya. Nah, betapa ironisnya pacaran itu, apakah masih bisa dibilang pacaran para bocah ini karena cinta? Bocah kok sudah mengenal cinta. Ketahui lah para bocah itu hanya mengikuti Trend kekinian saja. Akibat pacaran itu juga, remaja yang baru pubertas menyalurkan hasratnya yang menggebu-gebu terhadap pacarnya. Ironis !

Semua orang bisa mendeskripsikan apa itu cinta lewat berbagai presepsi, tetapi bagi saya cinta itu tak bisa diungkap dengan kata-kata. Cinta datang dan timbul dengan sendirinya? Bisa jadi ! dan bisa jadi juga yang anda rasakan itu bukan cinta tetapi nafsu, berkacalah dan ingat satu hal bahwa cinta dan nafsu itu beda tipis. Jika memang anda cinta dia, miliki lah dia seutuhnya dalam hubungan halal atau tinggalkan, jangan miliki dia hanya sebatas pacaran yang caranya memiliki itu setengah-setengah. Welcome di Era Kids Jaman Now.

                                                                                                                                 

Polusi Jaringan



Yooo...!!
Halo saudara saudari, sobat ku semua.. apa kabarnya nih? ;)
yah semoga baik-baik saja yaa..

Kali ini aku ingin berbagi sedikit ilmu yang ku dapat tadi malam. Aku seperti mendapatkan sebuah ilham sehingga otak kolot ku terbuka lagi, dan semoga sobat juga pikiran dan hatinya selalu terbuka untuk ku yaa..  :* ;)
*PLAKK

          Terinspirasi dengan sebuah film dokumenter yang berjudul "DI BALIK FREKUENSI" yang ku tonton semalam, tentunya teman sudah tak asing lagi dengan yang namanya MEDIA kan? Media yang terbagi jadi media cetak, elektronik, online dan sejenis sanak saudaranya.

          Batin saya sempat tergugah ketika mengikuti alur film dokumenter itu. Ketika film usai, terjadilah diskusi hangat antar teman nobar (nonton bareng) ku.
Dari sana pemikiran ku yang hampir pupus karena urusan kampus, kembali diruncingkan lagi oleh permasalahan masa kini.

          “Media itu untuk apa?” Tanya salah satu audiens yang ikut menyantap tontonan yang sama. Pola pikir ku pun seketika terketuk, diingatkan kembali dengan puzzle-puzzle kehidupan yang sudah ku alami beberapa bulan terakhir.

          Amati saja sobat, media yang sekarang ini lebih berpihak kepada orang-orang berDUIT. Partai-partai, ormas, dan kelompok menengah keatas, lebih mereka kedepankan dibandingkan kepentingan publik.

          Hampir semua media sekarang tak bisa dipercaya, bisa saja semuanya. Sebab faktanya tidak ada lagi yang namanya netral, semua serba memihak pada tetua mereka yang berkuasa.

          Demokrasi, Netral, Adil, hanya slogan semata yang terpampang tanpa ada artinya. Sobat boleh percaya atau tidak, nyatanya kini makna sebenarnya itu tinggal kenangan. (aseeeekkk.....!!!)

          Rakyat kita lugu, dibuktikan dari kurangnya literasi di Indonesia. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang minat membaca.

          Dengan kurangnya literasi, pemikiran rakyat jadi tumpul dan polos sepolos kain kafan, Innalillahi. Mereka jadi mudah percaya dan menelan bulat-bulat informasi yang mereka dapat, tanpa adanya Tabayyun.

          Ketahuilah sobat, era kita sekarang ini sedang terjadi perang. Perang yang lebih mematikan dan dangerousyang melebihi perang berdarah, yaitu perang pemikiran dengan nama keren Ghazwul Fikri.

          Di buku yang saya baca “Islam gak Liberal” karya Zaky Ahmad Rivai, bahwa media sekarang itu merupakan sesuatu yang harus dikuasai. Melalui media yang dikuasai, seorang bisa dengan mudahnya membentuk mindset kepada publik sehigga mereka lebih mudah dikendalikan.

          Jadi, karena media kita sekarang lebih banyak hoax dan propaganda politik, media itu pun berhasil mengelabui banyak sekali generasi penerus bangsa. Mudanya digiring seperti domba kemana saja media itu mau.

          Dengan literasi, sebenarnya itu bisa membangkitkan gairah terpendam dalam setiap individu yaitu berpikir kritis. Tanpa itu semua kita hanyalah seperti budak yang mau disuruh-suruh, apatis dan bahlul.

          Generasi Jaman Nowdilalaikan dengan gadget mereka. Karena kehidupan yang serba praktis, membuat generasi sekarangmalas berpikir.

          Pernah kah sobat mendengar beberapa takhayul dari orang tua dulu? Seperti bangun siang rejeki dipatok ayam, duduk di depan pintu blablabla, duduk diatas bantal blablabla, potong kuku malam blablabla? Pernah kah sobat heran dan protes?

          Kata-kata orang tua jaman dulu memang tak masuk akal kan? Memang benar. Mereka sengaja membuat itu untuk mengajarkan kita untuk tidak langsung percaya. Kita diberi sebuah clueuntuk memecahkan apa maksudnya, dan kita dibuat berfikir.

          Tak seperti sekarang yang hanya bermodal kata-kata mutiara tentang cinta. Apa itu cinta? Makan tuh cinta. Pemuda yang harusnya mencari jati diri dimasa mudanya, malah disibukkan dengan pencarian cintanya, siap nikah saja belum. :p

          

Hujan VS Banjir


                Hujan merupakan rahmat Tuhan yang tiada duanya setelah kehidupan. Bagi umat beragama maupun yang atheis, menganggap hujan amat bermakna bagi hidupnya setelah mereka ditinggal mantan.
                Oke sobat.. Kali ini daku (aku/saya) akan mengajak sobat menyelami sedikit tetesan nilai kehidupan, tepatnya menyelami makna sebuah unsur yang amat dibutuhkan di dunia kita yang fana ini. Sebelum membaca, diharapkan menjaga jarak dan pencahayaan yang cukup ya sobat !
Peringatan!!! : membaca terlalu dekat dapat mengakibatkan pegal-linu, mata berair, berkunang-kunang, berbagai jenis rabun, mual, kanker, dan gangguan mata lainnya.

                Seperti kalimat yang pertama kali sobat baca diatas, hujan merupakan suatu unsur yang amat bermanfaat bagi manusia dan sejenisnya. Hujan terdiri dari tetesan-tetesan hidrogen cair yang membentuk rintik-rintik yang jatuh ke bumi.

                Dibalik manfaatnya yang fenomenal dan dipuja-puja bak dewa, tak dapat dipungkiri masih banyak orang yang mengidentikkan hujan dengan banjir. Terutama yang di perkotaan, yang sudah kumuh dengan selokan mereka yang mampat dan tersumbat diiringi tarian lalat-lalat dan mungkin berulat-ulat.

                Daku saja sudah bosan mendengar rengekan manusia itu. Mereka selalu mengadu kepada pemerintah tentang banjir ini banjir itu, selokan yang ini yang itu, sungai ini itu, tanggul yang itu, bendungan yang sana itu, dan masih banyak lagi ini itu.

                Tanpa mereka sadari, sebenarnya merekalah yang berulah. Mengenai sampah yang dibuang sembarangan, hingga bertumpuk-tumpuk  yang mereka abaikan. Lahirlah banjir.

                Hanyak segelintir orang yang peduli, manusia seperti mereka tak bisa mengelak lagi sobat. Jika banyak yang cinta bersih, buktinya kenapa masih banyak sampah yang menggunungi pinggir jalan hingga memulau di perairan? Ya, sobat.. mari kita selami lagi banjir dosa ini.

                Hujan bagi daerah kekeringan adalah merupakan anugerah terindah yang pernah (ku miliki) ada. Tapi, kenapa di Indonesia banyak yang memandang sebelah mata? Apa mata mereka kelilipan? Ataukah sengaja mengedipkan satu mata agar doi peka? Jawabannya ada di ujung langit, sobat.
(lu kire Dragon Ball ?!)

                Pada hakikatnya keluh kesah yang terjadi hingga sumpah serapah yang mereka caci, adalah hasil ketidakpuasan mereka sendiri terhadap limpahan rejeki. Sesungguhnya manusia tidak pernah puas, limpahan saja mereka maki.

                Ketika bencana terjadi, masyarakat mencaci pemerintah. Ya benar juga pemerintah yang salah, kenapa rakyat tidak diajarkan sekolah mengenai moral lingkungan dan tata cara mengelolanya?? Nah itu tau.

                Kurikulim saat ini saja, hanya mendorong masyarakat untuk berebut kerja tanpa peduli secuil apa lapangan pekerjaannya. Nilai yang dinomor-satu-kan, tanpa peduli moral.

                Ujian buat apa? Hanya membuang-buang kertas dan menghabiskan puluhan hektar hutan saja, kertasnya pun menumpuk dan kemudian dibuang jadi sampah. Biasanya lembar kertas dengan nilai yang jelek saja disobek lalu dibuang oleh para pelajar karena takut ketahuan orang tuanya.

                Banyak mahasiswa yang mencontek temannya yang pintar karena ingin nilai tinggi, sebenarnya apa yang mereka lakukan itu benar. Benar bahwa guru hanya menilai perjuangan seorang siswa dari hasil akhirnya saja.

                Bagaimana dengan siswa yang sudah berupaya sekolah bertahun-tahun selalu hadir ke sekolah, rajin mengerjakan PR, tidak sombong, dan suka menabung, lalu belajar kebut semalam bersusah payah? Dan ketika salah satu nilai ujian mereka anjlok, langsung tidak naik kelas atau lulus sekolah. Sia-sia ya..

                Ada yang bunuh diri karena frustasi, putus asa, dan sakit jiwa karena nilai. Ternyata sebuah nilai begitu berarti bagi calon generasi bangsa ya, sobat.

                “Kurikulum di negeri ini harus di rombak”, betul kata pak Jokowi di koran tahun lalu. Kurikulum kita terlalu greget untuk orang indonesia yang maenstream. Sistemnya yang kaku dalam penilaian, membuat gugur para manusia lugu.

                Ya begitulah nilai moral sobat, biasanya kita sebut Norma dalam bermasyarakat.Termasuk sebagai manusia sendiri, hidup kita selalu terpengaruh oleh penilaian orang lain.

                Hujan juga begitu, sudah banyak orang yang salah menilai. Ada yang menyalahkan hujan ketika dia sedang menjemur pakaian, ada juga yang menyalahkan hujan karena dia ingin jalan sama gebetan di malam mingguan. Dasar tidak tau diri !

                Dapat disimpulkan bahwa hampir semua manusia mulai menyamakan hujan dengan banjir yang jelas bencana yang mereka buat sendiri, tanpa mereka pikirkan apa sebab muncul datangnya.


                Yeah sekian tulisan saya yang kurang bermutu ini sobat, semoga pikiran sobat sedikit tergelitik dengan tulisan saya yang masih semerawut berantakan ini. Jangan salahkan hujan ya.. syukurilah.